BAB II
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Pembangunan Perikanan dalam Pelita
IV pada hakekatnya adalah merupakan kelanjutan dan sekaligus peningkatan segala
usaha yang telah dilaksanakan dalam Pelita III. Sasaran yang belum tercapai
harus diselesaikan, hasil positip yang didapat perlu dikembangkan terus dan
masalah baru yang timbul akibat dari pembangunan itu sendiri harus dipecahkan.
Sesuai dengan tahap pengembangannya,
pembagunan perikanan dalam Repelita IV diarahkan untuk mencapai tujuan :
- Meningkatkan pendapatan nelayan dan petani ikan serta memperluas kesempatan berusaha dan kesempatan kerja produktif dalam Sub Sektor Perikanan.
- Meningkatkan produksi dan produktifitas usaha nelayan dan petani ikan dengan jalan mengembangkan agribisnis.
- Meningkatkan konsumsi ikan menuju swasembada pangan protein dengan jalan memasyarakatkan makan ikan.
- Meningkatkan ekspor dan mengurangi impor hasil perikanan.
- Meningkatkan pembinaan sumber melalui pengendalian dan pengawasan perikanan.
- Untuk mencapai tujuan pembangunan tersebut, dilaksanakan usaha-usaha pokok yang meliputi intensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi baik horizontal maupun vertikal dan rehabilitasi.
Disamping usaha-usaha pokok yang
dilaksanakan pada bidang penangkapan, budidaya air payau dan budidaya air tawar,
maka sejak tahun 1982 pengembangan budidaya laut di perairan Indonesia mulai di
kembangkan dengan pengaturan yang lebih jelas.
Budidaya laut di Indonesia pada saat
ini masih merupakan usaha baru yang belum berkembang. Sampai saat ini dapat
dikatakan masih dalam tahap penelitian, keculai beberapa jenis biota yang sudah
dikembangkan seperti pemeliharaan tiram mutiara di Banggai, Aru, Dobo, dan
Ternate. Mengingat budidaya laut merupakan usaha baru, maka pengalaman maupun
keterampilan nelayan/petani ikan dan petugas perikanan masih sangat terbatas.
Luas perairan Indonesia yang
mencapai ± 70 %, banyaknya teluk-teluk dan selat-selat yang ada serta perairan
karang yang cukup luas, merupakan modal besar bagi kita untuk mengembangkan
usaha budidaya laut. Budidaya laut selain untuk melestarikan sumber daya alam
dan peningkatan produksi, juga dapat/merupakan/membuka lapangan kerja baru bagi
masyarakat.
B.
Tujuan
1. Untuk
menegtahui potensi budidaya laut di Indonesia.
2. Untuk
mengetahui potensi budidaya laut yang sudah dikelola.
3. Untuk
mengetahui garis pantai Indonesia.
4. Untuk
mengetahui jenis komoditi yang dibudidayakan di laut.
C.
Mamfaat
1. Dapat
mengetahui potensi budidaya laut di Indonesia
2. Dapat
mengetahui potensi budidaya laut yang sudah dikelola.
3. Dapat
mengetahui garis pantai Indonesia.
4. Untuk
mengetahui jenis komoditi yang dibudidayakan di laut.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah
Budidaya Laut
Awal budidaya laut atau marikultur di
Indonesia ditandai dengan adanya keberhasilan budidaya mutiara oleh perusahaan
Jepang pada tahun 1928 di Buton- Sulawesi Tenggara. Selanjutnya, awal tahun
1970-an dilakukan percobaan dan pengembangan budidaya rumput laut (Euchema sp.)
di Pulau Samaringa-Sulawesi Tengah, dengan adanya kerjasama antara Lembaga
Penelitian Perikanan Laut dan perusaan Denmark. Sementara itu, awal tahun
1980-an banyak pengusaha ekspor ikan kerapu hidup di Kepulauan Riau membuat
karamba jaring tancap serta karamba jaring apung sebagai tempat penampungan
ikan kerapu hidup hasil tangkapan sebelum di ekspor ke Singapura dan Hongkong.
Adapun perkembangan budidaya laut khususnya dalam karamba jaring apung (KJA)
dipicu oleh keberhasilan pembenihan ikan bandeng dan ikan kerapu di hatchery
secara massal pada tahun 1990-an di Loka Penelitian Budidaya Pantai Gondol Bali
di
B. Potensi Budidaya Laut Di Indonesia.
Indonesia
merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Luas laut kita mencapai 5,8
juta km2 yang terdiri dari perairan teritorial 3,1 juta km2
dan ZEE Indonesia 2,7 km2 dan terdiri dari 17.508 buah pulau dengan
panjang pantai mencapai 104.000 km. Laut sangat penting bagi kita karena dari
440 kabupaten/kota yang ada, 297 diantaranya merupakan kabupaten/kota pesisir.
Jumlah penduduk miskin di kawasan pesisir mencapai 7.879.468 orang atau sekitar
13,05 persen dari penduduk miskin nasional. Dengan demikian potensi laut dan
pesisir yang besar tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan untuk pembangunan nasional,
daerah dan desa-desa pantai yang ternyata banyak sekali penduduk yang masih
miskin.
Indonesia memiliki sumberdaya perikanan
meliputi, perikanan tangkap di perairan umum seluas 54 juta hektar dengan
potensi produksi 0,9 juta ton/tahun. Budidaya laut terdiri dari budidaya ikan
(antara lain kakap, kerapu, dan gobia), budidaya moluska (kekerangan, mutiara,
dan teripang), dan budidaya rumput laut, Besaran potensi hasil laut dan
perikanan Indonesia mencapai 3000 triliun per tahun, akan tetapi yang sudah dimanfaatkan
hanya sekitar 225 triliun atau sekitar 7,5% saja
Di
samping itu terdapat potensi pengembangan untuk:
1. Perikanan
tangkap di perairan umum seluas 54 juta hektar dengan potensi produksi 0,9 juta
ton/tahun,
2. budidaya
laut terdiri dari budidaya ikan (antara lain kakap, kerapu, dan gobia),
budidaya moluska (kekerangan, mutiara, dan teripang), dan budidaya rumput laut
3. bioteknologi
kelautan untuk pengembangan industri bioteknologi kelautan seperti industri
bahan baku untuk makanan, industri bahan pakan alami, benih ikan dan udang
serta industri bahan pangan. Selain itu juga terdapat potensi dan peluang
pengembangan meliputi:
a. pengembangan
pulau-pulau kecil,
b. pemanfaatan
Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam
c. pemanfaatan
air laut dalam (deep sea water),
d. industri
garam rakyat,
e. pengelolaan
pasir laut,
f. industri
penunjang,
g. Keaneragaman
hayati laut.
Peluang pengembangan usaha kelautan dan
perikanan Indonesia masih memiliki prospek yang baik. Potensi ekonomi sumber
daya kelautan dan perikanan yang berada di bawah lingkup tugas KKP dan dapat
dimanfaatkan untuk mendorong pemulihan ekonomi diperkirakan sebesar US$82
miliar per tahun. Potensi tersebut meliputi: potensi perikanan tangkap sebesar
US$15,1 miliar per tahun, potensi budidaya laut sebesar US$46,7 miliar per
tahun, potensi peraian umum sebesar US$1,1 miliar per tahun,
C. Potensi Budidaya Laut Yang Sudah Dikelola
Lebih dari delapan puluh persen potensi laut Indonesia
belum dieksplorasi dan dikelola dengan baik. Laut memiliki potensi luar biasa
yang dapat digali dari berbagai sektor, mulai sektor transportasi, ekspor
impor, minyak, perikanan, pariwisata, sampai sektor potensi laut. Potensi
perikanan laut di Indonesia tersebar pada hampir semua bagian perairan laut Indonesia
belum tergali secara maksimal. Luas perairan laut Indonesia diperkirakan
mencapai 5,8 juta km2 yang terdiri dari 0,8 juta km² laut territorial, 2,3 juta
km² laut nusantara, dan 2,7 juta km² Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Dengan
garis pantai terpanjang di dunia sebesar 81.000 km dan gugusan pulau-pulau
sebanyak 17.508, Indonesia memiliki potensi ikan yang diperkirakan terdapat
sebanyak 6,26 juta ton per tahun yang dapat dikelola secara lestari dengan
rincian sebanyak 4,4 juta ton dapat ditangkap di perairan Indonesia. Namun
sayangnya pemanfaatan potensi perikanan laut Indonesia, walaupun telah
mengalami berbagai peningkatan pada beberapa aspek belum secara signifikan
dapat memberi kekuatan dan peran yang kuat terhadap pertumbuhan perekonomian
dan peningkatan pendapatan masyarakat nelayan Indonesia. Minimnya pengembangan
potensi kekayaan laut nusantara itu membuat Indonesia kalah bersaing
dibandingkan negeri jiran seperti Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam. Karena
itulah konsep industry perikanan terpadu merupakan salah satu solusi terhadap
arahan pengembangan kawasan pesisir di Indonesia.
D. Garis Pantai Indonesia
Garis
pantai adalah batas pertemuan antara bagian laut dan daratan pada saat terjadi air
laut pasang
tertinggi. Garis laut dapat berubah karena adanya abrasi, yaitu pengikisan pantai oleh hantaman gelombang laut yang menyebabkan
berkurangnya areal daratan. Indonesia merupakan negara berpantai terpanjang
kedua di dunia setelah Kanada. Panjang garis pantai Indonesia tercatat sebesar
81.000 km.
Seperti
yang diberitakan Antara, Rompas menegaskan bahwa koreksi panjang garis pantai
Indonesia dari 81.000 km menjadi 95.181 km ini telah diumumkan PBB pada 2008
lalu. Dengan koreksi yang dilakukan PBB tersebut kini Indonesia justru berada
di posisi keempat setelah Rusia. Sedangkan negara pemilik garis pantai
terpanjang diduduki Amerika Serikat (AS) dan diikuti Kanada. Sebelumnya Kanada
menduduki urutan pertama dengan panjang garis pantai 243.792 km dengan 52.455
pulau.
E. Komoditi Yang Dibudidayakan Di Laut
1. Pemilihan Jenis Komoditas
Ada
bebereapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan pilihan biota laut
yang akan dibudidayakan, diantaranya aspek permintaan pasar, pasok benih,
sediaan teknologi budidaya, sediaan lahan, dan kemungkinan timbulnya dampak
negatif terhadap lingkungan. Pertimbangan untuk memilih komodit as laut yang
akan dibudidayakan
a.
Sebaikknya
mengembangkan spesies asli/ lokal daripada introduksi atau impor.
b.
Memilih
spesies yang sesuai dengan permintaan pasar.
c.
Diversifikasi spesies budidaya diprioritaskan
pada ikan pemakan plankton dan ikan herbivora. Jumlahnya lebih banyak daripada ikan
karnivora.
d.
Jenis
ikan pelagis lebih mudah dibudidayakan dilihat dari penerapan teknologinya
dibandingkan dengan ikan demersal.
e.
Ikan
yang tidak hanya bisa bernafas dengan insang atau ikan yang mempunyai labirin
lebih mudah pemeliharaan dan tidak memerlukan mutu air yang baik.
f.
Ikan
yang teknologi pembenihannya sudah maju sehingga pasokan benih baik jumlah dan
kualitasnya tersedia setiap saat.
g.
Seluruh
siklus hidup ikan budidaya harus dapat dikontrol dan teknologinya sudah
dikuasai
2. Jenis biota yang dibudidayakan di laut
Banyak jenis biota laut yang sudah biasa
dibudidayakan, seperti jenis ikan, krustasea, moluska, echinodermata, dan
rumput laut. Ikan yang sudah biasa dibudidayakan adalah:
a. Kerapu bebek
b. Kerapu macan
c. Kerapu lumpur
d. Kakap merah
e. Baronang
f. Nila merah
g. Bandeng
h. Cobia
i.
Kerapu
sunu
Jenis udang
yang biasa dibudidayakan antara lain :
a. Udang windu
b. Udang barong
Sedangkan
jenis-jenis moluska yang senantiasa dibudidayakan antara lain
:
a. Tiram daging
b. Tiram mutiara
c. Kerang hijau
d. Kerang darah
e. Kerang abalon
f. Tiram mabe
F.
Sistem
Budidaya Air Laut
Dalam budidaya air laut ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1.
Pemilihan lokasi
Sebagai langkah awal
budidaya laut adalah pemilihan lokasi budidaya yang tepat. Oleh karena itu,
pemilihan dan penentuan lokasi budidaya harus didasarkan pertimbangan ekologis,
teknis, higienis, sosio-ekonomis, dan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Pemilihan lokasi sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan
gabungan beberapa faktor yang dikaji secara menyeluruh.
a) Persyaratan teknis
Sesuai dengan sifatnya yang sangat
dipengaruhi oleh kondisi perairan, lingkungan bagi kegiatan budidaya laut dalam
keramba jaring apung sangat menentukan keberhasilan usaha. Pemilihan lokasi
yang baik harus memperhatikan aspek fisika, biologi, dan kimia perairan yang
cocok untuk biota laut. Selain itu, pemilihan lokasi perlu juga
mempertimbangkan aspek efisiensi biaya operasional budidaya.
b) Persyaratan sosial-ekonomi
a. Berikut beberapa aspek sosio ekonomi
yang perlu mendapat perhatian dalam pemilihan dan penentuan lokasi.
b. Keterjangkauan lokasi. Lokasi budidaya
yang dipilih sebaiknya adalah lokasi yang mudah dijangkau.Tenaga kerja. Tenaga
kerja sebaiknya dipilih yang memiliki tempat tinggal berdekatan dengan lokasi
budidaya, terutama pemberdayaan masyarakat dan nelayan.
c. Sarana dan pra sarana. Lokasi budidaya
sebaiknya berdekatan dengan sarana dan prasarana perhubungan ynag memadai untuk
mempermudah pengangkutan bahan, benih, hasil dan lain-lain.
d. Kondisi masyarakat. Kondisi masyarakat
yang lebih kondusif akan memungkinkan perkembangan usaha budidaya laut di
daerah tersebut.
c) Persyaratan non-teknis
Persyaratan non-teknis yang harus
dipenuhi dalam pemilihan lokasi adalah
a.
Keterlindungan.
Lokasi budidaya harus terlindung dari bahaya fisik yang dapat merusaknya.
Misalnya gelombang besar dan angin. Oleh karena itu, lokasi budidaya biasanya
dipilih di tempat yang terlindung atau terhalang oleh pulau.
b.
Keamanan
lokasi. Masalah pencurian harus dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi budidaya
agar proses budidaya aman dan tidak terganggu.
c.
Konflik
kepentingan. Lokasi budidaya tidak boleh menimbulkan konflik kepentingan,
misalnya, antara kegiatan perikanan dan nonperikanan (pariwisata).
d.
Aspek
peraturan dan perundang-undangan. Pemilihan lokasi harus sesuai dan tidak
melanggar peraturan agar budidaya dapat berkelanjutan.
2.
Teknis Budidaya
Berbeda
dengan budidaya air tawar, komoditas budidaya laut cukup banyak. Selain itu,
metode atau teknologi budidaya laut lebih beragam, mulai dari pemanfaatan lahan
dasar, penggunaan jaring atau rak tancap ( pen Culture ), Keramba Jaring apung.
a)
Jaring
Tancap
Jaring tancap ( pen Culture ) biasanya
dipasang di bawah ( kolong ) rumah nelayan di pinggir pantai atau dipasang di
tengah laut pada kedalaman 2-8 meter waktu surut terendah. Jaring tancap
merupakan jaring kantong berbentuk persegi yang dipasang pada kerangka bambu
atau kayu yang ditancap pada dasar perairan. Pasangan kayu / bambu ditancap
rapat, seperti pagar, atau hanya dipasang di bagian sudut kantong jaring. Jaring
sebagai lapisan dalam diikatkan pada kayu.
b)
Keramba
jaring apung
Keramba Jaring
Apung ( KJA ) dapat dibuat dalam berbagai ukuran. Desain dan bahan tergantung
pada kemudahan penanganan, daya tahan bahan baku,harga, dan faktor lainnya.
Jaring atau wadah untuk pemeliharaan ikan di laut dibuat dari bahan polietilen.
Bentuk dan ukuran bervariasi dan sangat dipengaruhi oleh jenis ikan yang
dibudidayakan, ukuran ikan, kedalaman perairan, serta faktor kemudahan dalam
pengelolaan.
G.
Teknik
Budidaya Di Laut
1.
Budidaya Rumput Laut
Rumput laut merupakan sumber utama
penghasil agar-agar, alginat dan karaginan yang banyak dimanfaatkan dalam
industri makanan, kosmetik, farmasi dan industri lainnya, seperti industri
kertas, tekstil, fotografi, pasta dan pengelengan ikan. Beberapa jenis rumput
laut yang telah berhasil di budidayakan dan telah berkembang dengan baik di
tingkat pembudidaya adalah Kappaphycus alvarezii dan euchema denticulatum yang
di pelihara di perairan pantai (laut).
a. Pemilihan lokasi budidaya
Pertumbuhan rumput laut
ditentukan oleh kondisi perairan sehingga kondisi rumput laut cenderung
bervariasi dari lokasi budidaya yang berbeda.
Karakteristik keberhasilan usaha rumput laut. Parameter yang perku di perhatikan adalah sebagai berikut:ekologi suatu lokasi merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
Karakteristik keberhasilan usaha rumput laut. Parameter yang perku di perhatikan adalah sebagai berikut:ekologi suatu lokasi merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
b. Metode Budidaya
1)
Metode
Lepas Dasar
Metode ini dilakukan di atas dasar
perairan yang berpasir atau pasir berlumpur dan tyerlindung dari hempasan
gelombang yang besar. Hal ini penting untuk memudahkan pamasagan patok .
biasanya lokasi dikelilingi oleh karang pemecah gelombang. Selain itu,
sebaiknya memiliki kedalaman air sekitar 50cm pd surut terendah dan 3m pada
saat pasang tertinggi.
2)
Metode
Rakit Apung
Merupakan budidaya rumput laut dengan
cara mengikat rumput laut pada tali ris. Yang diikat pada rakit apung yang
terbuat dari bambu. Satu unit rakit apung berukuran 2,5 m – 5 m. Tanaman harus
selalu berada sekitar 30-50 cm dibawah permukaan air laut.
3)
Metode
Rawai
Metode ini dikenal dengan metode long
line yang menggunakan tali panjang yang di bentangkan. Metode ini merupakan
salah satu metode permukaan yang paling banyak di minati pembudidaya. Alat dan
bahan yang digunakan dalam metode ini lebih tahan lama, relatif murah, dan
mudah diperoleh.
4)
Metode
Jalur
Metode ini merupakan kombinasi antara
metode rakit dengan rawai. Kerangka metode ini ternuat dari rakit (bambu) yang
tersusun sejajar. Kedua ujung setiap bambu dihubungkan dengan tali utama
berdiameter 6mm sehingga membentuk persegi panjang dengan ukuran 5m – 7m per
petak dengan satu unit terdiri dari 7-10 petak.
Pada kedua ujung setiap unit di beri jangkar penanaman dimulai dengan mengikat bibit rumput laut ke tali jalur. Tali tersebut telah di lengkapi dengan tali polietilen berdiameter 0,2c sebagai pengikat bibit. Adapun jaraknya sekotar 25cm.
c. Pengolahan budidaya
1)
Penyediaan
bibit
Penyediaan
bibit rumput laut diambil dari alam, budidaya, dan pembenihan. Budidaya rumput
laut dapat mengambbil benih dari alam bila lokasi budidaya tersebut memiliki potensi
bibit alam.
2)
Penanganan
bibit selama pengangkutan
Pengangkutan
bibit selama pengangkutan dari tempat asal ke lokasi budidaya dilakukan sebagai
berikut :
·
Bibit
harus dijaga agar tetap lembab
·
Usahakan agar tidak terkena air tawar, hujan,
embun, mminyak, dan kotoran lainnya karena akan merusak bibit.
·
Bibit
tidak boleh terkena sinar matahri
·
Bibit
diletakkan pada daerah yang jahu dari sumber panas, seperti mesin mobil atau
perahu.
3)
Penanaman
bibit
Bibit
yang akan ditanam dipilih yang berkualitas. Kepadatan penanaman bibit rumput
laut tergantung dari jenis dan metode budidaya yang akan digunakan. Untuk
budidaya Euchema sp. Bobot bibit yang digunakan sekitar 50-100 ggr per ikatan
dengan jarak tidak kurang dari 25 cm.
4)
Perawatan
tanaman
Agar
budidaya dapat dilakukan dengan baik dan berhasil maka harus dilakukan
perawatan dan pemeliharaan. Perawatan bukan hanya pada tanaman itu sendiri
tetapi juga pada alat-alat dan perangkat budidaya. Oleh karena itu, pengelola
rumput laut sangat diperlukan untuk memperkecil kemungkinan kerusakan tanaman.
Kegiatan perawatan meliputi pembersihan lumpur, kotoran, dan biofouling yang menempel pada thallus rumput laut; penyisipan tanaman yang rusak atau lepas dari ikatan; penggantian patok, pelampung dan lain-lain.
Kegiatan perawatan meliputi pembersihan lumpur, kotoran, dan biofouling yang menempel pada thallus rumput laut; penyisipan tanaman yang rusak atau lepas dari ikatan; penggantian patok, pelampung dan lain-lain.
e. Panen
Waktu
panen sangat ditentukan oleh waktu tanaman dalam mencapai tingkat kandungan
bahan utama maksimal. Dengan demikian panen rumput laut sebaiknya dilakukan
setelah mencapai pemeliharaan selama 45 hari. Namun, panen untuk rumput laut
untuk bibit dilakukan pada saat umur tanaman berkisar 25-35 hari.
Panen dilakukan pada cuaca yang cerah agar kualitas rumput laut yang dihasilkan terjamin. Panen dapat dilakukan dengan dua cara yaitu ; panen selektif atau parsial dan secara keseluruhan. Panen secara selektif dilakukan dengan cara memotong tanaman secara langsung tanpa melepas ikatan dari tali ris. Keuntungan cara ini adalah penghematan tali rafia pengikat rumput laut, tetapi memerlukan waktu yang agak lama. Sementara itu panen kaseluruhan dilakukan dengan mengangkut seluruh tanaman sekaligus sehingga waktu kerja yang diperlukan lebih singkat.
Panen rumput laut secara keseluruhan pada metode lepas dasar, rakit apung, rawai, dan jalur dilakukan dengan cara berikut :
Panen dilakukan pada cuaca yang cerah agar kualitas rumput laut yang dihasilkan terjamin. Panen dapat dilakukan dengan dua cara yaitu ; panen selektif atau parsial dan secara keseluruhan. Panen secara selektif dilakukan dengan cara memotong tanaman secara langsung tanpa melepas ikatan dari tali ris. Keuntungan cara ini adalah penghematan tali rafia pengikat rumput laut, tetapi memerlukan waktu yang agak lama. Sementara itu panen kaseluruhan dilakukan dengan mengangkut seluruh tanaman sekaligus sehingga waktu kerja yang diperlukan lebih singkat.
Panen rumput laut secara keseluruhan pada metode lepas dasar, rakit apung, rawai, dan jalur dilakukan dengan cara berikut :
·
Rumput
laut dibersihkan dari kotoran atau tanaman lain yang melekat sebelum dipanen.
·
Tali
ris yang penuh dengan ikatan rumput laut dilepaskan dari bambu atau tali utama.
·
Gulungan
dari tali ris yang berisi ikatan rumput laut diletakan di sampan atau wadah
transportasi lainnya.
BAB
II
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari
makalah ini kami dapat menarik kesimpulan yaitu:
1.
Potensi Luas laut Indonesia mencapai 5,8 juta
km2 yang terdiri dari perairan teritorial 3,1 juta km2
dan ZEE Indonesia 2,7 km2 dan terdiri dari 17.508 buah pulau dengan
panjang pantai mencapai 104.000 km.
2.
Potensi
laut Indonesia yang sudah dikelola yaiu memiliki potensi ikan yang diperkirakan
terdapat sebanyak 6,26 juta ton per tahun yang dapat dikelola secara lestari
dengan rincian sebanyak 4,4 juta ton dapat ditangkap di perairan Indonesia.
3.
Jenis
komoditi yang dibudidayakan dilaut yaitu: ikan kakap .kerapu cobia, rumput laut
,udang windu, serta tiram dan kerang-kerangan.
B. Saran
Sebagai
tindak lanjut dari penyusunan makalah
ini disarankan agar kita dapat lebih melestarikan lingkungan hidup dan
hutan Mangrove sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku.
KATA
PENGANTAR
Puji syukur
kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkah limpahan rahmat
serta karunia-Nya lah kami sekelompok dapat menyelesaikan tugas Konservasi
Lingkungan Perairan tepat pada waktunya. Tugas yang kami susun ini bertemakan Potensi Budidaya Laut Di Indonesia. .
Tidak
lupa kami mengucapkan terima kasih kepada bapak guru yang membingbing kami, dalam
penyelesaian tugas ini. Kami juga berharap tugas yang kami susun ini dapat
berguna sebagai bahan pembelajaran untuk teman-teman lainnya yang ingin mendalami
tentang potensi budidaya laut di indonesia.
Dengan segala keterbatasan tugas yang kami susun ini
masihlah jauh dari kesempurnaan yang Bapak dan teman-teman lainnya harapkan.
Untuk itu, kami senantiasa mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
para pembaca agar penyusunan tugas di lain hari dapat menjadi lebih baik.
Demikianlah yang dapat kami curahkan, atas segala kekurangan nya kami ucapkan
maaf yang sebesar-besarnya.
Waetuo, 11, Agustus 2015
Penyusun
|
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR i
DAFTAR
ISI ii
BAB
I PENDAHULUAN 1
C. Latar
Belakang 1
D. Tujuan 2
E. Mamfaat 2
BAB II PEMBAHAAN 3
A. Sejarah
Budidaya Laut 3
B. Potensi
Budidaya Laut Di Indonesia 3
C. Potensi
Budidaya Laut Yang Sudah Dikelola 4
D. Panjang
Garis Pantai Indonesia 5
E. Komodidti
Yang Dibudidayakan Di Laut 6
F. Sistem
Budidaya Laut 7
G. Teknik
Budidaya Di Laut 9
BAB III PENUTUP 13
A. Kesimpulan 13
B. Saran 13
|
Tugas
Kelompok
POTENSI BUDIDAYA LAUT
DI INDONESIA

Oleh:
Kelompok I
A.Yuspita
Dwi Rezky
Chaterine
Rumambo T.T
Iyang
Mashuri
Muh.Abyaksan
Nurazizah
Yusra
Rudi
Bagus
Wiranto
Y Loboran
SEKOLAH USAHA PERIKANAN MENENGAH (SUPM)
NEGERI BONE
2015
![]() |

terimakasih kak informasinya sangat menarik, jangan lupa juga kunjungi balik website resmi kami http://bit.ly/2KFWNkJ
BalasHapus