Kamis, 21 Januari 2016

Potensi Budidaya Air Laut



BAB II
PENDAHULUAN
A.     Latar belakang
Pembangunan Perikanan dalam Pelita IV pada hakekatnya adalah merupakan kelanjutan dan sekaligus peningkatan segala usaha yang telah dilaksanakan dalam Pelita III. Sasaran yang belum tercapai harus diselesaikan, hasil positip yang didapat perlu dikembangkan terus dan masalah baru yang timbul akibat dari pembangunan itu sendiri harus dipecahkan.
Sesuai dengan tahap pengembangannya, pembagunan perikanan dalam Repelita IV diarahkan untuk mencapai tujuan :
  1. Meningkatkan pendapatan nelayan dan petani ikan serta memperluas kesempatan berusaha dan kesempatan kerja produktif dalam Sub Sektor Perikanan.
  2. Meningkatkan produksi dan produktifitas usaha nelayan dan petani ikan dengan jalan mengembangkan agribisnis.
  3. Meningkatkan konsumsi ikan menuju swasembada pangan protein dengan jalan memasyarakatkan makan ikan.
  4. Meningkatkan ekspor dan mengurangi impor hasil perikanan.
  5. Meningkatkan pembinaan sumber melalui pengendalian dan pengawasan perikanan.
  6. Untuk mencapai tujuan pembangunan tersebut, dilaksanakan usaha-usaha pokok yang meliputi intensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi baik horizontal maupun vertikal dan rehabilitasi.
Disamping usaha-usaha pokok yang dilaksanakan pada bidang penangkapan, budidaya air payau dan budidaya air tawar, maka sejak tahun 1982 pengembangan budidaya laut di perairan Indonesia mulai di kembangkan dengan pengaturan yang lebih jelas.
Budidaya laut di Indonesia pada saat ini masih merupakan usaha baru yang belum berkembang. Sampai saat ini dapat dikatakan masih dalam tahap penelitian, keculai beberapa jenis biota yang sudah dikembangkan seperti pemeliharaan tiram mutiara di Banggai, Aru, Dobo, dan Ternate. Mengingat budidaya laut merupakan usaha baru, maka pengalaman maupun keterampilan nelayan/petani ikan dan petugas perikanan masih sangat terbatas.
Luas perairan Indonesia yang mencapai ± 70 %, banyaknya teluk-teluk dan selat-selat yang ada serta perairan karang yang cukup luas, merupakan modal besar bagi kita untuk mengembangkan usaha budidaya laut. Budidaya laut selain untuk melestarikan sumber daya alam dan peningkatan produksi, juga dapat/merupakan/membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.
B.    Tujuan
1.    Untuk menegtahui potensi budidaya laut di Indonesia.
2.    Untuk mengetahui potensi budidaya laut yang sudah dikelola.
3.    Untuk mengetahui garis pantai Indonesia.
4.    Untuk mengetahui jenis komoditi yang dibudidayakan di laut.
C.    Mamfaat
1.    Dapat mengetahui potensi budidaya laut di Indonesia
2.    Dapat mengetahui potensi budidaya laut yang sudah dikelola.
3.    Dapat mengetahui garis pantai Indonesia.
4.    Untuk mengetahui jenis komoditi yang dibudidayakan di laut.








BAB II
PEMBAHASAN
A.     Sejarah Budidaya Laut
       Awal budidaya laut atau marikultur di Indonesia ditandai dengan adanya keberhasilan budidaya mutiara oleh perusahaan Jepang pada tahun 1928 di Buton- Sulawesi Tenggara. Selanjutnya, awal tahun 1970-an dilakukan percobaan dan pengembangan budidaya rumput laut (Euchema sp.) di Pulau Samaringa-Sulawesi Tengah, dengan adanya kerjasama antara Lembaga Penelitian Perikanan Laut dan perusaan Denmark. Sementara itu, awal tahun 1980-an banyak pengusaha ekspor ikan kerapu hidup di Kepulauan Riau membuat karamba jaring tancap serta karamba jaring apung sebagai tempat penampungan ikan kerapu hidup hasil tangkapan sebelum di ekspor ke Singapura dan Hongkong. Adapun perkembangan budidaya laut khususnya dalam karamba jaring apung (KJA) dipicu oleh keberhasilan pembenihan ikan bandeng dan ikan kerapu di hatchery secara massal pada tahun 1990-an di Loka Penelitian Budidaya Pantai Gondol Bali di
B.    Potensi Budidaya Laut Di Indonesia.
       Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia.  Luas laut kita mencapai 5,8 juta km2 yang terdiri dari perairan teritorial 3,1 juta km2 dan ZEE Indonesia 2,7 km2 dan terdiri dari 17.508 buah pulau dengan panjang pantai mencapai 104.000 km. Laut sangat penting bagi kita karena dari 440 kabupaten/kota yang ada, 297 diantaranya merupakan kabupaten/kota pesisir. Jumlah penduduk miskin di kawasan pesisir mencapai 7.879.468 orang atau sekitar 13,05 persen dari penduduk miskin nasional. Dengan demikian potensi laut dan pesisir yang besar tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan untuk pembangunan nasional, daerah dan desa-desa pantai yang ternyata banyak sekali penduduk yang masih miskin.
       Indonesia memiliki sumberdaya perikanan meliputi, perikanan tangkap di perairan umum seluas 54 juta hektar dengan potensi produksi 0,9 juta ton/tahun. Budidaya laut terdiri dari budidaya ikan (antara lain kakap, kerapu, dan gobia), budidaya moluska (kekerangan, mutiara, dan teripang), dan budidaya rumput laut, Besaran potensi hasil laut dan perikanan Indonesia mencapai 3000 triliun per tahun, akan tetapi yang sudah dimanfaatkan hanya sekitar 225 triliun atau sekitar 7,5% saja
       Di samping itu terdapat potensi pengembangan untuk:
1.    Perikanan tangkap di perairan umum seluas 54 juta hektar dengan potensi produksi 0,9 juta ton/tahun,
2.    budidaya laut terdiri dari budidaya ikan (antara lain kakap, kerapu, dan gobia), budidaya moluska (kekerangan, mutiara, dan teripang), dan budidaya rumput laut
3.    bioteknologi kelautan untuk pengembangan industri bioteknologi kelautan seperti industri bahan baku untuk makanan, industri bahan pakan alami, benih ikan dan udang serta industri bahan pangan. Selain itu juga terdapat potensi dan peluang pengembangan meliputi:
a.    pengembangan pulau-pulau kecil,  
b.    pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam
c.    pemanfaatan air laut dalam (deep sea water),
d.    industri garam rakyat,
e.    pengelolaan pasir laut,
f.     industri penunjang,
g.    Keaneragaman hayati laut.
       Peluang pengembangan usaha kelautan dan perikanan Indonesia masih memiliki prospek yang baik. Potensi ekonomi sumber daya kelautan dan perikanan yang berada di bawah lingkup tugas KKP dan dapat dimanfaatkan untuk mendorong pemulihan ekonomi diperkirakan sebesar US$82 miliar per tahun. Potensi tersebut meliputi: potensi perikanan tangkap sebesar US$15,1 miliar per tahun, potensi budidaya laut sebesar US$46,7 miliar per tahun, potensi peraian umum sebesar US$1,1 miliar per tahun,
C.    Potensi Budidaya Laut Yang Sudah Dikelola
Lebih dari delapan puluh persen potensi laut Indonesia belum dieksplorasi dan dikelola dengan baik. Laut memiliki potensi luar biasa yang dapat digali dari berbagai sektor, mulai sektor transportasi, ekspor impor, minyak, perikanan, pariwisata, sampai sektor potensi laut. Potensi perikanan laut di Indonesia tersebar pada hampir semua bagian perairan laut Indonesia belum tergali secara maksimal. Luas perairan laut Indonesia diperkirakan mencapai 5,8 juta km2 yang terdiri dari 0,8 juta km² laut territorial, 2,3 juta km² laut nusantara, dan 2,7 juta km² Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Dengan garis pantai terpanjang di dunia sebesar 81.000 km dan gugusan pulau-pulau sebanyak 17.508, Indonesia memiliki potensi ikan yang diperkirakan terdapat sebanyak 6,26 juta ton per tahun yang dapat dikelola secara lestari dengan rincian sebanyak 4,4 juta ton dapat ditangkap di perairan Indonesia. Namun sayangnya pemanfaatan potensi perikanan laut Indonesia, walaupun telah mengalami berbagai peningkatan pada beberapa aspek belum secara signifikan dapat memberi kekuatan dan peran yang kuat terhadap pertumbuhan perekonomian dan peningkatan pendapatan masyarakat nelayan Indonesia. Minimnya pengembangan potensi kekayaan laut nusantara itu membuat Indonesia kalah bersaing dibandingkan negeri jiran seperti Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam. Karena itulah konsep industry perikanan terpadu merupakan salah satu solusi terhadap arahan pengembangan kawasan pesisir di Indonesia.
D.    Garis Pantai Indonesia
       Garis pantai adalah batas pertemuan antara bagian laut dan daratan pada saat terjadi air laut pasang tertinggi. Garis laut dapat berubah karena adanya abrasi, yaitu pengikisan pantai oleh hantaman gelombang laut yang menyebabkan berkurangnya areal daratan. Indonesia merupakan negara berpantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Panjang garis pantai Indonesia tercatat sebesar 81.000 km.
       Seperti yang diberitakan Antara, Rompas menegaskan bahwa koreksi panjang garis pantai Indonesia dari 81.000 km menjadi 95.181 km ini telah diumumkan PBB pada 2008 lalu. Dengan koreksi yang dilakukan PBB tersebut kini Indonesia justru berada di posisi keempat setelah Rusia. Sedangkan negara pemilik garis pantai terpanjang diduduki Amerika Serikat (AS) dan diikuti Kanada. Sebelumnya Kanada menduduki urutan pertama dengan panjang garis pantai 243.792 km dengan 52.455 pulau.


E.     Komoditi Yang Dibudidayakan Di Laut
1.    Pemilihan Jenis Komoditas
Ada bebereapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan pilihan biota laut yang akan dibudidayakan, diantaranya aspek permintaan pasar, pasok benih, sediaan teknologi budidaya, sediaan lahan, dan kemungkinan timbulnya dampak negatif terhadap lingkungan. Pertimbangan untuk memilih komodit as laut yang akan dibudidayakan
a.    Sebaikknya mengembangkan spesies asli/ lokal daripada introduksi atau impor.
b.    Memilih spesies yang sesuai dengan permintaan pasar.
c.     Diversifikasi spesies budidaya diprioritaskan pada ikan pemakan plankton dan ikan herbivora. Jumlahnya lebih banyak daripada ikan karnivora.
d.    Jenis ikan pelagis lebih mudah dibudidayakan dilihat dari penerapan teknologinya dibandingkan dengan ikan demersal.
e.    Ikan yang tidak hanya bisa bernafas dengan insang atau ikan yang mempunyai labirin lebih mudah pemeliharaan dan tidak memerlukan mutu air yang baik.
f.     Ikan yang teknologi pembenihannya sudah maju sehingga pasokan benih baik jumlah dan kualitasnya tersedia setiap saat.
g.    Seluruh siklus hidup ikan budidaya harus dapat dikontrol dan teknologinya sudah dikuasai
2.    Jenis biota yang dibudidayakan di laut
       Banyak jenis biota laut yang sudah biasa dibudidayakan, seperti jenis ikan, krustasea, moluska, echinodermata, dan rumput laut. Ikan yang sudah biasa dibudidayakan adalah:
a. Kerapu bebek
b.  Kerapu macan
c. Kerapu lumpur
d. Kakap merah
e. Baronang
f.  Nila merah
g. Bandeng
h. Cobia
i.   Kerapu sunu
Jenis udang yang biasa dibudidayakan antara lain :
a. Udang windu
b. Udang barong
Sedangkan jenis-jenis moluska yang senantiasa dibudidayakan antara lain :
a. Tiram daging
b. Tiram mutiara
c. Kerang hijau
d. Kerang darah
e. Kerang abalon
f.  Tiram mabe
F.     Sistem Budidaya Air Laut
Dalam budidaya air laut ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1.    Pemilihan lokasi
Sebagai langkah awal budidaya laut adalah pemilihan lokasi budidaya yang tepat. Oleh karena itu, pemilihan dan penentuan lokasi budidaya harus didasarkan pertimbangan ekologis, teknis, higienis, sosio-ekonomis, dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pemilihan lokasi sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan gabungan beberapa faktor yang dikaji secara menyeluruh.
a)     Persyaratan teknis
Sesuai dengan sifatnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi perairan, lingkungan bagi kegiatan budidaya laut dalam keramba jaring apung sangat menentukan keberhasilan usaha. Pemilihan lokasi yang baik harus memperhatikan aspek fisika, biologi, dan kimia perairan yang cocok untuk biota laut. Selain itu, pemilihan lokasi perlu juga mempertimbangkan aspek efisiensi biaya operasional budidaya.
b)    Persyaratan sosial-ekonomi
a.    Berikut beberapa aspek sosio ekonomi yang perlu mendapat perhatian dalam pemilihan dan penentuan lokasi.
b.    Keterjangkauan lokasi. Lokasi budidaya yang dipilih sebaiknya adalah lokasi yang mudah dijangkau.Tenaga kerja. Tenaga kerja sebaiknya dipilih yang memiliki tempat tinggal berdekatan dengan lokasi budidaya, terutama pemberdayaan masyarakat dan nelayan.
c.    Sarana dan pra sarana. Lokasi budidaya sebaiknya berdekatan dengan sarana dan prasarana perhubungan ynag memadai untuk mempermudah pengangkutan bahan, benih, hasil dan lain-lain.
d.    Kondisi masyarakat. Kondisi masyarakat yang lebih kondusif akan memungkinkan perkembangan usaha budidaya laut di daerah tersebut.
c)    Persyaratan non-teknis
Persyaratan non-teknis yang harus dipenuhi dalam pemilihan lokasi adalah
a.      Keterlindungan. Lokasi budidaya harus terlindung dari bahaya fisik yang dapat merusaknya. Misalnya gelombang besar dan angin. Oleh karena itu, lokasi budidaya biasanya dipilih di tempat yang terlindung atau terhalang oleh pulau.
b.      Keamanan lokasi. Masalah pencurian harus dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi budidaya agar proses budidaya aman dan tidak terganggu.
c.       Konflik kepentingan. Lokasi budidaya tidak boleh menimbulkan konflik kepentingan, misalnya, antara kegiatan perikanan dan nonperikanan (pariwisata).
d.      Aspek peraturan dan perundang-undangan. Pemilihan lokasi harus sesuai dan tidak melanggar peraturan agar budidaya dapat berkelanjutan.




2.    Teknis Budidaya
      Berbeda dengan budidaya air tawar, komoditas budidaya laut cukup banyak. Selain itu, metode atau teknologi budidaya laut lebih beragam, mulai dari pemanfaatan lahan dasar, penggunaan jaring atau rak tancap ( pen Culture ), Keramba Jaring apung.
a)   Jaring Tancap
     Jaring tancap ( pen Culture ) biasanya dipasang di bawah ( kolong ) rumah nelayan di pinggir pantai atau dipasang di tengah laut pada kedalaman 2-8 meter waktu surut terendah. Jaring tancap merupakan jaring kantong berbentuk persegi yang dipasang pada kerangka bambu atau kayu yang ditancap pada dasar perairan. Pasangan kayu / bambu ditancap rapat, seperti pagar, atau hanya dipasang di bagian sudut kantong jaring. Jaring sebagai lapisan dalam diikatkan pada kayu.
b)   Keramba jaring apung
Keramba Jaring Apung ( KJA ) dapat dibuat dalam berbagai ukuran. Desain dan bahan tergantung pada kemudahan penanganan, daya tahan bahan baku,harga, dan faktor lainnya. Jaring atau wadah untuk pemeliharaan ikan di laut dibuat dari bahan polietilen. Bentuk dan ukuran bervariasi dan sangat dipengaruhi oleh jenis ikan yang dibudidayakan, ukuran ikan, kedalaman perairan, serta faktor kemudahan dalam pengelolaan.
G.    Teknik Budidaya Di Laut
1.     Budidaya Rumput Laut
Rumput laut merupakan sumber utama penghasil agar-agar, alginat dan karaginan yang banyak dimanfaatkan dalam industri makanan, kosmetik, farmasi dan industri lainnya, seperti industri kertas, tekstil, fotografi, pasta dan pengelengan ikan. Beberapa jenis rumput laut yang telah berhasil di budidayakan dan telah berkembang dengan baik di tingkat pembudidaya adalah Kappaphycus alvarezii dan euchema denticulatum yang di pelihara di perairan pantai (laut).

a.    Pemilihan lokasi budidaya
Pertumbuhan rumput laut ditentukan oleh kondisi perairan sehingga kondisi rumput laut cenderung bervariasi dari lokasi budidaya yang berbeda.
Karakteristik keberhasilan usaha rumput laut. Parameter yang perku di perhatikan adalah sebagai berikut:ekologi suatu lokasi merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
b.    Metode Budidaya
1)   Metode Lepas Dasar
Metode ini dilakukan di atas dasar perairan yang berpasir atau pasir berlumpur dan tyerlindung dari hempasan gelombang yang besar. Hal ini penting untuk memudahkan pamasagan patok . biasanya lokasi dikelilingi oleh karang pemecah gelombang. Selain itu, sebaiknya memiliki kedalaman air sekitar 50cm pd surut terendah dan 3m pada saat pasang tertinggi.
2)   Metode Rakit Apung
Merupakan budidaya rumput laut dengan cara mengikat rumput laut pada tali ris. Yang diikat pada rakit apung yang terbuat dari bambu. Satu unit rakit apung berukuran 2,5 m – 5 m. Tanaman harus selalu berada sekitar 30-50 cm dibawah permukaan air laut.
3)   Metode Rawai
Metode ini dikenal dengan metode long line yang menggunakan tali panjang yang di bentangkan. Metode ini merupakan salah satu metode permukaan yang paling banyak di minati pembudidaya. Alat dan bahan yang digunakan dalam metode ini lebih tahan lama, relatif murah, dan mudah diperoleh.
4)   Metode Jalur
Metode ini merupakan kombinasi antara metode rakit dengan rawai. Kerangka metode ini ternuat dari rakit (bambu) yang tersusun sejajar. Kedua ujung setiap bambu dihubungkan dengan tali utama berdiameter 6mm sehingga membentuk persegi panjang dengan ukuran 5m – 7m per petak dengan satu unit terdiri dari 7-10 petak.

Pada kedua ujung setiap unit di beri jangkar penanaman dimulai dengan mengikat bibit rumput laut ke tali jalur. Tali tersebut telah di lengkapi dengan tali polietilen berdiameter 0,2c sebagai pengikat bibit. Adapun jaraknya sekotar 25cm.

c.    Pengolahan budidaya
1)   Penyediaan bibit
       Penyediaan bibit rumput laut diambil dari alam, budidaya, dan pembenihan. Budidaya rumput laut dapat mengambbil benih dari alam bila lokasi budidaya tersebut memiliki potensi bibit alam.
2)   Penanganan bibit selama pengangkutan
       Pengangkutan bibit selama pengangkutan dari tempat asal ke lokasi budidaya dilakukan sebagai berikut :
·         Bibit harus dijaga agar tetap lembab
·          Usahakan agar tidak terkena air tawar, hujan, embun, mminyak, dan kotoran lainnya karena akan merusak bibit.
·         Bibit tidak boleh terkena sinar matahri
·         Bibit diletakkan pada daerah yang jahu dari sumber panas, seperti mesin mobil atau perahu.
3)   Penanaman bibit
       Bibit yang akan ditanam dipilih yang berkualitas. Kepadatan penanaman bibit rumput laut tergantung dari jenis dan metode budidaya yang akan digunakan. Untuk budidaya Euchema sp. Bobot bibit yang digunakan sekitar 50-100 ggr per ikatan dengan jarak tidak kurang dari 25 cm.
4)   Perawatan tanaman
       Agar budidaya dapat dilakukan dengan baik dan berhasil maka harus dilakukan perawatan dan pemeliharaan. Perawatan bukan hanya pada tanaman itu sendiri tetapi juga pada alat-alat dan perangkat budidaya. Oleh karena itu, pengelola rumput laut sangat diperlukan untuk memperkecil kemungkinan kerusakan tanaman.
Kegiatan perawatan meliputi pembersihan lumpur, kotoran, dan biofouling yang menempel pada thallus rumput laut; penyisipan tanaman yang rusak atau lepas dari ikatan; penggantian patok, pelampung dan lain-lain.
e.    Panen
Waktu panen sangat ditentukan oleh waktu tanaman dalam mencapai tingkat kandungan bahan utama maksimal. Dengan demikian panen rumput laut sebaiknya dilakukan setelah mencapai pemeliharaan selama 45 hari. Namun, panen untuk rumput laut untuk bibit dilakukan pada saat umur tanaman berkisar 25-35 hari.
Panen dilakukan pada cuaca yang cerah agar kualitas rumput laut yang dihasilkan terjamin. Panen dapat dilakukan dengan dua cara yaitu ; panen selektif atau parsial dan secara keseluruhan. Panen secara selektif dilakukan dengan cara memotong tanaman secara langsung tanpa melepas ikatan dari tali ris. Keuntungan cara ini adalah penghematan tali rafia pengikat rumput laut, tetapi memerlukan waktu yang agak lama. Sementara itu panen kaseluruhan dilakukan dengan mengangkut seluruh tanaman sekaligus sehingga waktu kerja yang diperlukan lebih singkat.
Panen rumput laut secara keseluruhan pada metode lepas dasar, rakit apung, rawai, dan jalur dilakukan dengan cara berikut :
·         Rumput laut dibersihkan dari kotoran atau tanaman lain yang melekat sebelum dipanen.
·         Tali ris yang penuh dengan ikatan rumput laut dilepaskan dari bambu atau tali utama.
·         Gulungan dari tali ris yang berisi ikatan rumput laut diletakan di sampan atau wadah transportasi lainnya.







BAB II
PENUTUP
A.     Kesimpulan
            Dari makalah ini kami dapat menarik kesimpulan yaitu:
1.     Potensi Luas laut Indonesia mencapai 5,8 juta km2 yang terdiri dari perairan teritorial 3,1 juta km2 dan ZEE Indonesia 2,7 km2 dan terdiri dari 17.508 buah pulau dengan panjang pantai mencapai 104.000 km.
2.    Potensi laut Indonesia yang sudah dikelola yaiu memiliki potensi ikan yang diperkirakan terdapat sebanyak 6,26 juta ton per tahun yang dapat dikelola secara lestari dengan rincian sebanyak 4,4 juta ton dapat ditangkap di perairan Indonesia.
3.    Jenis komoditi yang dibudidayakan dilaut yaitu: ikan kakap .kerapu cobia, rumput laut ,udang windu, serta tiram dan kerang-kerangan.
B.    Saran
       Sebagai tindak lanjut dari penyusunan makalah  ini disarankan agar kita dapat lebih melestarikan lingkungan hidup dan hutan Mangrove sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku.







KATA PENGANTAR
            Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkah limpahan rahmat serta karunia-Nya lah kami sekelompok dapat menyelesaikan tugas Konservasi Lingkungan Perairan tepat pada waktunya. Tugas yang kami susun ini bertemakan Potensi Budidaya Laut Di Indonesia. .
            Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada bapak guru yang membingbing kami, dalam penyelesaian tugas ini. Kami juga berharap tugas yang kami susun ini dapat berguna sebagai bahan pembelajaran untuk teman-teman lainnya yang ingin mendalami tentang potensi budidaya laut di indonesia.
Dengan segala keterbatasan tugas yang kami susun ini masihlah jauh dari kesempurnaan yang Bapak dan teman-teman lainnya harapkan. Untuk itu, kami senantiasa mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca agar penyusunan tugas di lain hari dapat menjadi lebih baik. Demikianlah yang dapat kami curahkan, atas segala kekurangan nya kami ucapkan maaf yang sebesar-besarnya.




Waetuo, 11, Agustus 2015


Penyusun




i
 
 
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR                                                                                                          i
DAFTAR ISI                                                                                                                          ii
BAB I PENDAHULUAN                                                                                                     1
C.   Latar Belakang                                                                                                   1
D.   Tujuan                                                                                                                 2
E.   Mamfaat                                                                                                              2
BAB II PEMBAHAAN                                                                                                         3
A.   Sejarah Budidaya Laut                                                                                                3
B.   Potensi Budidaya Laut Di Indonesia                                                                        3
C.   Potensi Budidaya Laut Yang Sudah Dikelola                                            4
D.   Panjang Garis Pantai Indonesia                                                                    5
E.   Komodidti Yang Dibudidayakan Di Laut                                                      6
F.    Sistem Budidaya Laut                                                                                      7
G.   Teknik Budidaya Di Laut                                                                                 9
BAB III PENUTUP                                                                                                              13
A.   Kesimpulan                                                                                                       13
B.   Saran                                                                                                                  13






i
 
 
Tugas Kelompok

POTENSI BUDIDAYA LAUT DI INDONESIA

bira
Oleh: Kelompok I
A.Yuspita Dwi Rezky
Chaterine Rumambo T.T
Iyang Mashuri
Muh.Abyaksan
Nurazizah Yusra
Rudi Bagus
Wiranto Y Loboran

SEKOLAH USAHA PERIKANAN MENENGAH (SUPM)
NEGERI BONE
2015


 

1 komentar:

  1. terimakasih kak informasinya sangat menarik, jangan lupa juga kunjungi balik website resmi kami http://bit.ly/2KFWNkJ

    BalasHapus